uncanny valley

mengapa kita merasa ngeri melihat robot atau cgi yang terlalu mirip manusia

uncanny valley
I

Pernahkah kita menonton film animasi 3D, lalu tiba-tiba merasa ada yang salah dengan wajah karakternya? Senyumnya ada di sana, matanya berkedip, tapi entah kenapa bulu kuduk kita malah berdiri. Kita merasa aneh. Tidak nyaman. Padahal, karakternya sedang digambarkan tersenyum ramah kepada kita. Atau mungkin teman-teman pernah melihat video robot pintar di internet yang wajahnya dilapisi silikon menyerupai manusia sungguhan. Bukannya kagum, kita malah merasa ingin segera menutup video tersebut. Nah, hari ini saya ingin mengajak teman-teman membedah fenomena yang diam-diam sering kita alami ini. Kenapa sesuatu yang dibuat agar terlihat persis seperti kita, justru membuat kita merasa sangat terganggu?

II

Coba kita bayangkan karakter robot pembersih sampah seperti WALL-E, atau R2-D2 dari film Star Wars. Kita pasti merasa mereka menggemaskan, bukan? Kita tahu secara sadar bahwa mereka hanyalah tumpukan logam, tapi kita dengan mudah merasa bersimpati. Sekarang, coba bayangkan robot humanoid canggih yang dibuat menyerupai manusia dewasa, lengkap dengan pori-pori kulit palsu, rambut, dan bibir yang bisa menirukan tawa. Alih-alih merasa gemas, alarm di kepala kita biasanya langsung berbunyi keras. Di tahun 1970, seorang ahli robotika asal Jepang bernama Masahiro Mori menyadari pola psikologis ini. Ia merumuskan sebuah konsep yang kini kita kenal sebagai uncanny valley atau lembah ketidaknyamanan. Intinya begini: semakin mirip sebuah mesin atau animasi dengan manusia, kita akan semakin menyukainya. Tapi, ada satu titik anomali. Ketika benda itu terlihat hampir sempurna seperti manusia—tapi ada sedikit saja gestur, proporsi, atau tatapan mata yang meleset—rasa suka kita langsung terjun bebas ke dasar jurang kengerian. Pertanyaannya, jurang apa sebenarnya yang sedang kita tatap ini?

III

Mari kita berpikir sejenak sambil menengok ke belakang. Secara evolusi biologi, rasa takut adalah mekanisme pertahanan diri yang sangat brilian. Kita takut pada ular beracun karena gigitannya mematikan. Kita merasa jijik pada daging yang membusuk karena bakteri di dalamnya bisa membunuh kita. Setiap ketakutan dan rasa jijik yang tertanam dalam DNA kita punya alasan logis yang kuat untuk menjaga spesies kita tetap hidup. Lalu, bagaimana dengan rasa ngeri saat melihat robot atau CGI yang terlalu mirip manusia? Mereka tidak hidup. Mereka secara fisik tidak bisa melukai kita dari balik layar. Kenapa otak kita mendadak panik dan mengirimkan sinyal bahaya? Logikanya, jika DNA kita mewariskan ketakutan ini, berarti di masa lalu, nenek moyang kita pernah berhadapan dengan sesuatu yang terlihat seperti manusia, tapi bukan manusia. Sesuatu yang sangat berbahaya, sampai-sampai otak kita harus menciptakan sistem alarm khusus yang bertahan hingga ratusan ribu tahun. Apa yang sebenarnya ditakuti oleh insting purba kita?

IV

Inilah bagian di mana sains memberikan jawaban yang memukau. Para ahli psikologi evolusioner dan ilmuwan kognitif punya penjelasan yang sangat masuk akal. Pertama, ini berkaitan dengan teori penghindaran patogen (pathogen avoidance). Di alam liar purba, manusia yang wajahnya pucat pasi, tatapannya kosong, badannya kaku, atau bergerak dengan aneh, biasanya adalah manusia yang sedang sakit parah atau sudah menjadi mayat. Mayat membawa penyakit menular mematikan. Jadi, saat kita melihat robot dengan kulit sintetis kaku dan mata yang tidak fokus, otak kadal kita langsung berteriak, "Itu mayat berjalan! Menjauh agar tidak tertular!" Kedua, ada yang namanya malfungsi prediksi otak (predictive coding error). Otak kita pada dasarnya adalah mesin pembuat tebakan yang luar biasa efisien. Saat melihat mesin fotokopi, otak tidak berharap benda itu bernapas. Tapi saat melihat wajah android, otak kita mengharapkan adanya aliran darah di balik kulit, denyut nadi, dan gerakan otot mikro di sekitar mata. Saat prediksi itu gagal dan otak kita mendapati senyum yang delay nol koma sekian detik, sistem saraf pusat kita mengalami korsleting (cognitive dissonance). Otak kita kebingungan dan akhirnya mengkategorikan wujud tersebut sebagai ancaman psikopatologis yang harus dihindari.

V

Sungguh luar biasa, bukan? Rasa merinding saat kita menonton film dengan animasi efek visual yang gagal, atau saat melihat robot canggih yang menatap kita secara tidak wajar, ternyata adalah gema dari jutaan tahun proses adaptasi. Rasa ngeri itu adalah cara leluhur kita memeluk dan melindungi kita dari seberang waktu. Di era sekarang dan di masa depan, teknologi kecerdasan buatan akan terus melesat maju. Para ilmuwan akan terus berusaha menjembatani jurang uncanny valley ini, demi membuat ciptaan yang tidak bisa lagi kita bedakan dari manusia sejati. Mungkin, suatu hari nanti, alarm di kepala kita akan sepenuhnya berhasil diakali dan berhenti berbunyi. Namun, untuk saat ini, mari kita hargai rasa ngeri yang kadang muncul secara tiba-tiba itu. Itu bukan sekadar ketakutan yang mengada-ada. Sensasi itu adalah bukti yang indah bahwa jauh di dalam diri kita, kemampuan untuk mengenali jiwa dan empati dari sesama manusia sejati, masih menyala dengan sangat terang.